"Komunikasi Murah Untuk Melepas Ketelisoliran Kal-Teng”

Khusus buat kali ini saya mau bahas topik yang agak serius nih, ini tentang permasalahan yang akan diangkat pada seminar nasional pada tanggal 31 Agustus 2009 dengan pembicaranya adalah seorang pakar IT terkemuka di Indonesia, Bapak Onno Widodo Putro atau yang lebih dikenal dengan nama Onno W. Purbo. Beliau dikenal sebagai penulis, pendidik, pembicara seminar, mantan dosen ITB, dan pakar Internet. Cukup banyak inovasinya yang cukup dikenal oleh orang banyak, seperti RT/RW Net dan VoIP Rakyat. Dalam berbagai seminar beliau sering sekali membahas tentang pentingnya komunikasi murah yang seharusnya dapat digunakan oleh siapa saja, agar Indonesia bisa jadi lebih 'melek teknologi'.

Tema yang diangkat pada seminar ini cukup menarik, yaitu "Komunikasi Murah Untuk Melepas Ketelisoliran Kal-Teng". Jika dijadikan pertanyaan mungkin bunyinya seperti ini, "Apakah selama ini Kalimantan Tengah merupakan daerah yang terisolir?". Jika ditanyakan pribadi kepada saya, mungkin saya akan menjawab "ya". Faktanya dapat kita rasakan saat ini jika kita ingin berpergian ke daerah-daerah di berbagai penjuru Kalteng, biasanya kita harus menggunakan jalan darat (yang terkadang pun rusak berat), apalagi jika kita ingin ke daerah pedalaman, wah hampir bisa dipastikan jukung atau kelotok menjadi satu-satunya alat transportasi yang dapat mengakses wilayah tersebut.

Pertanyaannya sekarang "Mengapa daerah-daerah di Kalteng bisa terisolir seperti ini?" Mungkin ada yang menjawab bahwa ini disebabkan karena adanya kekurangan dalam menerapkan teknologi canggih di masa kini, karena biasanya kata modernisasi diidentikkan dengan penguasaan dan aplikasi tekhnologi modern, bukankah begitu? Kalau hanya itu masalahnya berarti penyelesaiannya cukup mudah, cukup dengan memberikan pengajaran mengenai keterampilan teknologi masa kini kepada orang-orang di Kalteng, maka masalahnya selesai? Tidak. Saya rasa tidak semudah itu.

Keterampilan menggunakan teknologi tanpa diimbangi dengan komitmen dan prinsip manusiawi, tidaklah bisa menyelesaikan masalah keterisoliran daerah di Kalteng. Kita perlu ingat, bahwa dalam kehidupan ini pastilah terdapat interaksi dengan alam dan ciptaan-Nya yang lain. Dalam implementasinya tentunya kita juga tidak boleh melupakan kebudayaan tradisional warisan leluhur kita. Di dalam kebudayaan tradisional tersebut banyak dapat kita temui tersimpan berbagai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. Tipikal masyarakat Dayak Kalteng itu sendiri adalah masyarakat tradisional yang masih kuat dan erat sekali dengan hukum adat. Disinilah terkadang kita menemui bahwa teknologi modern rentan sekali dapat berbenturan dengan budaya tradisonal pada masyarakat.

Dalam hal seperti inilah keduanya harusnya saling menyesuaikan, tentunya kita dapat mensinergikan keduanya dalam satu lingkup tujuan, yaitu untuk melepas keterisoliran Kalteng. Budaya tradisional dapat direvitalisasi (Alasan mengapa perlu direvitalisasi, karena mungkin tidak semua budaya dari masa lalu tersebut sesuai dengan keperluan masa kini, hingga perlu disesuaikan), sehingga modernisasi yang akan dilakukan masih memiliki pondasi berupa kebudayaan tradisional yang berakar kepada kearifan lokal yang dapat diterima baik oleh masyarakat adat maupun oleh masyarakat modern. Jangan sampai hal ini membuat terjadi lepasnya makna filosofis dengan simbol-simbol budaya.

Saya sendiri bukanlah seorang yang dilahirkan dari keluarga suku Dayak, namun saya merasa ada ikatan yang mengikat diri saya dengan tanah yang saya diami sejak dilahirkan ini. Kalau teman-teman ngomong pakai bahasa Dayak, apalagi kalau susah dan cepat ngomongnya pasti saya nggak bisa nangkap apa yang dikatakannya. Kadang juga persoalan sepele pun dibahas, seperti membangga-banggakan Mall yang ada di provinsi tetangga, lalu dibanding-bandingkan dengan Mall yang ada di kota sendiri. Bukan masalah besar sih sebenarnya, namun kok sepertinya kurang ada kebanggaan pada dirinya untuk tinggal disini.

Wah kok malah jadi ngelantur ya, mungkin untuk sementara itu saja yang bisa saya tulis, pada intinya kita memerlukan komunikasi murah (gratis kalau bisa sih..), agar keterisoliran di Kalteng dapat berkurang pelan-pelan. Mungkin daerah-daerah yang susah dicapai dengan transportasi dapat terhubung dengan dunia luar dengan mudah melalui teknologi internet misalnya? Bagaimana caranya, nah itu tugas Pak Onno sebagai narasumber untuk membagikan pengalamannya pada seminar nanti. Semoga jika pemerintah mendengarkan seminar tersebut, mereka menjadi tergerak untuk membantu mengembangkan teknologi untuk melepas keterisoliran Kalteng, terutama untuk daerah yang susah dijangkau. Siapa tahu bulan depan kita sudah bisa chatting dengan teman-teman dari daerah sana dengan Facebook? Mungkin.


Keep Spirit on Learning,

0 Responses

Posting Komentar